Teruslah berjalan dalam kebenaran walau itu adalah penyebab kematianmu!!

Selasa, 31 Januari 2012

Communication


Komunikasi


Suatu ketika saya pernah membaca suatu artikel yang cukup menarik, artikel itu berjudul "satu kata" :

Satu Kata sembrono, dapat membuat orang lain tersakiti.
Satu Kata tanpa terkendali dapat membuat orang lain bingung.
Satu Kata tak sopan dan tidak ramah dapat membuat cinta hambar bahkan dapat menimbulkan benci.
Satu Kata menang sendiri dan tidak mau disalahkan, lambang sifat pengecut dan tak bijaksana.
Satu Kata keliru membuat orang terluka.
NAMUN 

Satu Kata "Maaf" bisa melahirkan cinta mendalam bagi yang mendengarnya.
Satu Kata lembut dan tulus dapat membawa damai bagi orang lain.
Satu Kata Pujian dapat memberi semangat bagi yang mendengarnya.


Jadi,
Satu Kata bisa menjadi kutu dan bisa menjadi berkat bagi kita dan orang lain. Karena itu, pikirkanlah terlebih dahulu setiap kata yang akan kita katakan. 

Yakobus 1:19 berkata "Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata..." Namun, kita sering baru menyadari apa yang kita ucapkan setelah kepahitan terjadi, ketika emosi, misalnya, peluang untuk membuat komunikasi menjadi tidak nyambung sangat terbuka. Banyak pasangan terluka karena tidak bisa membangun komunikasi. Memang lidah tidak bertulang, tetapi kita punya kesempatan yang sama untuk memproduksi berkat atau kutuk melalui perkataan kita. Saat orang tidak dapat mengekang lidahnya, lidah bisa menjadi api yang membakar hutan.
Namun, dari lidah kita dapat memuji Tuhan, memberi pujian pada pasangan, sahabat, saudara, dan orang lain. Dari lidah yang dikuasai, kita dapat melepaskan berkat. Kita tidak dapat menarik perkataan yang telah keluar, kelak kita pasti akan mempertanggungjawabkan apa yang diucapkan. Karena itu, kuasai perkataan Anda. Pikirkan dahulu sebelum mengucapkannya. Belajar tahan dan ukur perkataan Anda. Kita bisa buktikan bagaimana kita hidup dengan bergantung dari apa yang kita ucapkan. Jadi jika perkataan kita diurapi, bayangkan apa yang menjadi akibatnya, banyak orang akan diberkati.

Senin, 30 Januari 2012

The mistake that became a legend


Kesalahan yang menjadi Legenda


Dalam menjalani kehidupan berkeluarga, kita takkan luput dari melakukan kesalahan. Belajar memaafkan anak-anak Anda atas kesalahan mereka adalah satu hal, dan mengajar mereka memaafkan Anda atas kesalahan Anda adalah hal yang lain lagi. Jika kita melakukan kesalahan atau meledak-ledak dalam amarah, kita juga harus meminta maaf. Jika Anda benar-benar marah pada anak Anda sebelum ia berangkat ke sekolah, Anda perlu menyelesaikannya sebelum ia meninggalkan Anda selama beberapa jam untuk bersekolah.

Sebagian besar orangtua merasa sangat bersalah ketika memberi hukuman yang tak setimpal dengan kesalahan anak. Ini biasanya terjadi ketika sedang letih sehingga sedikit kelakuan buruk saja dapat memicu kesulitan yang lebih pelik. Di saat seperti itu, kita harus berhenti, melakukan introspeksi dan kemudian mendatangi serta berbicara dengan anak. Saat itu juga merupakan saat yang tepat untuk mengakui kegagalan Anda. Lakukan dengan jujur dan terbuka, anak-anak mudah tanggap dan belajar langsung dari contoh.

Mengampuni tak selalu mudah. Mungkin perlu usaha keras, tetapi pengampunan adalah satu-satunya cara untuk melangkah maju. Adakalanya, setelah direnungkan kembali, kesalahan kita dapat menjadi legenda. Anak-anak saya senang sekali mengingatkan saya pada kesalahan besar yang pernah saya lakukan beberapa waktu yang lalu.
Saat itu, saya berhasil membujuk seluruh anggota keluarga bahwa berjalan kaki melihat-lihat burung di daerah rawa-rawa dekat laut akan sangat menyenangkan. Kami membawa berbagai macam topi yang terlalu sempit dan sarung tangan yang tak sesuai dengan pasangannya, sehingga setiap orang harus memilah dan memilih dulu yang cocok, sebelum kami berangkat.

Saat itu bisa dikatakan angin berembus “sepoi-sepoi” dan tanahnya becek. Kami sudah berjalan cukup jauh menyisir pantai, ketika anak-anak mulai menggerutu. Mereka mulai berargumen tentang salju, hujan es, atau butiran-butiran beku yang akan menimpa kami. Saya baru saja akan mengatakan bahwa semua itu takkan terjadi, ketika saya memandang ke seberang rawa-rawa dan melihat hujan es siap menghadang jalan kami. Saat itu, sudah tak mungkin bagi kami untuk kembali. Tempat berlindung terdekat berada sekitar 1,5 km dari kami, dan mobil kami berjarak sekitar 3 km ke arah yang berlawanan. Kami lalu berdiskusi dan memutuskan bahwa jalan terbaik adalah maju terus untuk mencari tempat berlindung dari badai yang akan datang, dan kemudian mencemaskan untuk kembali ke mobil.

Sepuluh menit kemudian kami diterjang badai yang terdiri dari gabungan angin ribut, hujan es, dan salju. Saya mulai menyanyikan lagu The Wheels on the Bus Go Round dalam usaha yang sia-sia untuk membuat semuanya terus berjalan. Roda-roda kursi lipat hampir tak bisa bergerak sama sekali di lumpur, saat kami mencoba mendorongnya dengan sekuat tenaga. Kakikaki kedinginan, tangan terasa beku dan saya tak punya cukup tisu untuk menyeka semua wajah yang berlinangan air mata dan hidung yang basah.

Akhirnya, kami sampai juga di jalan beraspal dan langsung mencari restoran. Kami berandai-andai jika perjalanan berakhir di situ, pastilah sangat menyenangkan. Namun kenyataannya, saat itu kami masih berada sekitar 2,5 km dari mobil, sehingga setelah beristirahat untuk minum dan menghangatkan jari-jari, kami pun berjalan lagi.

Anak-anak, mulai dari yang sulung sampai yang bungsu, sangat marah pada Mike dan saya, karena telah membuat mereka harus berjalan kaki 9,5 km dalam cuaca yang sangat buruk itu. Lagipula, siapa yang dapat menyalahkan mereka? Kami menempuh perjalanan pulang dengan tuduhan yang terus berdengung di telinga kami. Semakin mereka ditenangkan dan dihangatkan, kemarahan mereka pun semakin hangat. Kami lalu meminta maaf karena sudah tak mendengarkan, tetapi mereka malah semakin seru meluapkan kemarahan daripada mendengarkan kami yang terbata-bata menjelaskan, bahwa kami memang sudah membuat kesalahan besar.

Akhirnya semua anak menerima permohonan maaf kami dengan janji, bahwa kami takkan berjalan kaki seperti itu lagi. Kami pun dimaafkan dan keharmonisan keluarga pun pulih kembali— setidaknya untuk sementara. Jika Anda mengalami peristiswa yang serupa, jangan lupa juga untuk memaafkan diri sendiri ketika Anda melakukan kesalahan.

Minggu, 29 Januari 2012

Late


Terlambat


Tiket penerbangan pesawat Pekanbaru - Jakarta pukul 18.05 sudah dibooking atas nama seseorang, yang hanya terlambat 20 menit untuk check-in di Bandara Sulta Syarif Kasim II, Dan tiket itu pun dibatalkan pihak maskapai penerbangan. Padahal orang tersebut sudah menjelaskan alasan keterlambatannya dan memohon agar bisa dimaklumi. Namun, ternyata pintu pesawat sudah ditutup. Sesuai dengan ketentuan, kita harus check-in 30 Menit sebelum pesawat tinggal landas. Tentu saja ini membuat orang itu kecewa dan marah. Ia minta kompensasi atas pembatalan keberangkatannya karena semua rencana yg telah ia susun gagal. Hal itu menunjukkan bahwa ia memang tidak siap utnuk menghadapi resiko keterlambatan.




Kehidupan pun seringkali seperti itu. Terlambat sedikit saja membuat segala rencana yg telah kita susun menjadi berantakan. Kita kesal dan marah, Kita minta dimengerti tanpa menyadari kesalahan kita. Kita ingin Tuhan mengerti dan memohon pada Tuhan bahwa kita mau bertobat setelah ini dan itu. Dan ketika semua itu sudah terlambat kita marah, protes dan memohon agar Tuhan memberikan kita kesempatan lagi. memang selama kita hidup, kesempatan itu masih ada. Bahkan ada ungkapan "tidak ada kata terlambat". Ya selama masih ada waktu dan kesempatan untuk memperbaiki segalanya janganlah kita menyia-nyiakannya. Selama hidupnya, orang kaya dalam perumpamaan Yesus hari ini memiliki waktu untuk mengatur hidupnya agar berkenan dihadapan-Nya. Bahkan ia punya banyak waktu untuk mengajak saudara-saudarannya untuk bertobat. Tapi, faktanya ia tidak menggunakan kesempatan itu. Ia baru menyadari ketiak sudah ada di alam maut. Dan tentu saja, itu sudah TERLAMBAT.

Bagaimana dengan setiap kita ? Sudahkah kita mempersiapkan diri sebelum kita terlambat ? Dalam perjalanan hidup kita, akan ada banyak rintangan dan halangan yang membuat kita terlambat. Tapi, jangan sampai saat semua sudah terlambat, maka baru kita memohon kepada Tuhan karena ingin memperbaiki segalanya. Waktu hidup kita adalah kesempatan kita!

Sabtu, 28 Januari 2012

Maintaining a marriage ark


Mempertahankan Bahtera Perkawinan


Ada seorang ibu mengeluh bahwa suaminya yang sudah sepuluh tahun menikah dengannya ternyata tidak setia. Suaminya punya gandengan lain yang lebih cantik dan muda. Ia mengaku, sejak awal perkawinan itu suaminya tidak pernah memberinya nafkah baik lahir maupun batin. Anehnya, mereka sudah punya dua orang anak yang manis-manis.

Ibu itu juga tidak mengerti mengapa situasi seperti itu bisa terjadi. Yang pasti baginya sekarang adalah suaminya lebih memperhatikan gandengan barunya itu. Bahkan suaminya cuek saja, ketika ia mempersoalkan hal ini. Ia menuntut agar suaminya kembali hidup bersama dengannya. Ia meminta agar suaminya meninggalkan perempuan simpanannya. 
  
Namun suaminya tidak bergeming. Ia semakin mesra dengan cewek selingkuhannya. Sang istri tambah sewot. Apalagi ia mesti menanggung hidup dirinya dan kedua anaknya sendirian. Suatu hari, sang suami itu akhirnya sungguh-sungguh meninggalkan rumah. Ia hidup bersama cewek simpanannya itu.

Kisah seperti ini biasa kita dengar. Ada ketidaksetiaan di antara suami istri, meski mereka sudah lama menjalin hubungan perkawinan. Pertanyaannya, mengapa hal ini mesti terjadi? Ada banyak sebab terciptanya situasi seperti ini. Mungkin saja pasangan itu sejak awal tidak sungguh-sungguh saling mencintai. Mereka menikah karena terpaksa. Bangunan cinta mereka belum sungguh-sungguh kokoh. Dengan demikian, ketika terjadi goncangan terhadap bahtera perkawinan mereka, perkawinan itu pun mudah goyah.

Jalan pintas yang dilakukan adalah perpisahan. Padahal perpisahan itu melukai banyak pihak. Selain suami istri yang mengalami perpisahan itu, anak-anak mereka juga akan mengalami luka batin yang mendalam. Mereka bertumbuh dalam suasana yang tidak seimbang. Tidak ada orang yang menjadi panutan bagi hidup mereka. Mereka bertumbuh dalam suasana ketidaksetiaan.

Karena itu, apa yang mesti dibuat oleh sepasang suami istri untuk mempertahankan perkawinan mereka? Pertama, mereka mesti membangun cinta yang lebih mendalam. Meskipun awalnya cinta mereka kurang mendalam, mereka mesti bisa memulai suatu proses untuk semakin saling mencintai. Ini tidak mudah. Namun mereka mesti mencoba. Mereka tidak boleh putus asa.

Kedua, mempertahankan perkawinan meski digoyang oleh gelombang itu untuk sesuatu yang mulia. Yaitu untuk kelangsungan cinta mereka sendiri dan cinta akan anak-anak yang lahir dari cinta mereka. Untuk itu, pasangan suami istri mesti tetap setia pada komitmen yang telah mereka buat ketika menikah. Bertahan dalam cinta itu lebih indah daripada menyerah kalah karena tantangan yang menghadang.

Sebagai orang beriman, kita ingin agar pasangan suami istri tetap setia seumur hidup dalam hidup perkawinan mereka. Karena itu, mereka mesti menyerahkan hidup mereka kepada Tuhan yang mahapengasih dan penyayang. Tuhan akan senantiasa melindungi setiap suami istri yang penuh iman mempertahankan bahtera perkawinan mereka. Tuhan memberkati.

Jumat, 27 Januari 2012

Archives of my life signed with his blood


Arsip-Arsip Hidupku Ditandatangi dengan Darah-NYA



Di antara sadar dan mimpi, aku menemukan diriku di sebuah ruangan. Tidak ada ciri yang mencolok di dalam ruangan ini kecuali dindingnya penuh dengan kartu-kartu arsip yang kecil. Kartu-kartu arsip itu seperti yang ada di perpustakaan yang isinya memuat judul buku menurut pengarangnya atau topik buku menurut abjad.

Tetapi arsip-arsip ini, yang membentang dari dasar lantai ke atas sampai ke langit-langit dan nampaknya tidak ada habis-habisnya di sekeliling dinding itu, memiliki judul yang berbeda-beda.

Pada saat aku mendekati dinding arsip ini, arsip yang pertama kali menarik perhatianku berjudul "Cewek-cewek yang Aku Suka". Aku mulai membuka arsip itu dan membuka kartu-kartu itu. Aku cepat-cepat menutupnya, karena terkejut melihat semua nama-nama yang tertulis di dalam arsip itu. Dan tanpa diberitahu siapapun, aku segera menyadari dengan pasti aku ada dimana.


Ruangan tanpa kehidupan ini dengan kartu-kartu arsip yang kecil-kecil merupakan sistem katalog bagi garis besar kehidupanku. Di sini tertulis tindakan-tindakan setiap saat dalam kehidupanku, besar atau kecil, dengan rincian yang tidak dapat dibandingkan dengan daya ingatku. Dengan perasaan kagum dan ingin tahu, digabungkan dengan rasa ngeri, berkecamuk di dalam diriku ketika aku mulai membuka kartu-kartu arsip itu secara acak, menyelidiki isi arsip ini. Beberapa arsip membawa sukacita dan kenangan yang manis; yang lainnya membuat aku malu dan menyesal sedemikian hebat sehingga aku melirik lewat bahu aku apakah ada orang lain yang melihat arsip ini.

Arsip berjudul "Teman-Teman" ada di sebelah arsip yang bertanda "Teman-teman yang Aku Khianati". Judul arsip-arsip itu berkisar dari hal-hal biasa yang membosankan sampai hal-hal yang aneh. "Buku-buku Yang Aku Telah Baca". "Dusta-dusta yang Aku Katakan". "Penghiburan yang Aku Berikan". "Lelucon yang Aku Tertawakan". Beberapa judul ada yang sangat tepat menjelaskan kekonyolannya: "Makian Buat Saudara-saudaraku".

Arsip lain memuat judul yang sama sekali tak membuat aku tertawa: "Hal-hal yang Aku Perbuat dalam Kemarahanku.", "Gerutuanku terhadap Orangtuaku". Aku tak pernah berhenti dikejutkan oleh isi arsip-arsip ini. Seringkali di sana ada lebih banyak lagi kartu arsip tentang suatu hal daripada yang aku bayangkan. Kadang-kadang ada yang lebih sedikit dari yang aku harapkan. Aku terpana melihat seluruh isi kehidupanku yang telah aku jalani seperti yang direkam di dalam arsip ini.

Mungkinkah aku memiliki waktu untuk mengisi masing-masing arsip ini yang berjumlah ribuan bahkan jutaan kartu? Namun setiap kartu arsip itu menegaskan kenyataan itu. Setiap kartu itu tertulis dengan tulisan tanganku sendiri. Setiap kartu itu ditanda-tangani dengan tanda tanganku sendiri.

Ketika aku menarik kartu arsip bertanda "Pertunjukan-pertunjukan TV yang Aku Tonton", aku menyadari bahwa arsip ini semakin bertambah memuat isinya. Kartu-kartu arsip tentang acara TV yang kutonton itu disusun dengan padat, dan setelah dua atau tiga yard, aku tak dapat menemukan ujung arsip itu. Aku menutupnya, merasa malu, bukan karena kualitas tontonan TV itu, tetapi karena betapa banyaknya waktu yang telah aku habiskan di depan TV seperti yang ditunjukkan di dalam arsip ini.

Ketika aku sampai pada arsip yang bertanda "Pikiran-Pikiran yang Ngeres", aku merasa merinding di sekujur tubuhku. Aku menarik arsip ini hanya satu inci, tak mau melihat seberapa banyak isinya, dan menarik sebuah kartu arsip. Aku terperangah melihat isinya yang lengkap dan persis. Aku merasa mual mengetahui bahwa ada saat di hidupku yang pernah memikirkan hal-hal kotor seperti yang dicatat di kartu itu. Aku merasa marah.

Satu pikiran menguasai otakku: Tak ada seorangpun yang boleh melihat isi kartu-kartu arsip in! Tak ada seorangpun yang boleh memasuki ruangan ini! Aku harus menghancurkan arsip-arsip ini! Dengan mengamuk bagai orang gila aku mengacak-acak dan melemparkan kartu-kartu arsip ini. Tak peduli berapa banyaknya kartu arsip ini, aku harus mengosongkannya dan membakarnya. Namun pada saat aku mengambil dan menaruhnya di suatu sisi dan menumpuknya di lantai, aku tak dapat menghancurkan satu kartupun. Aku mulai menjadi putus asa dan menarik sebuah kartu arsip, hanya mendapati bahwa kartu itu sekuat baja ketika aku mencoba merobeknya.

Merasa kalah dan tak berdaya, aku mengembalikan kartu arsip itu ke tempatnya. Sambil menyandarkan kepalaku di dinding, aku mengeluarkan keluhan panjang yang mengasihani diri sendiri.

Dan kemudian aku melihatnya. Kartu itu berjudul "Orang-orang yang Pernah Aku Bagikan Injil". Kotak arsip ini lebih bercahaya dibandingkan kotak arsip di sekitarnya, lebih baru, dan hampir kosong isinya. Aku tarik kotak arsip ini dan sangat pendek, tidak lebih dari tiga inci panjangnya. Aku dapat menghitung jumlah kartu-kartu itu dengan jari di satu tangan. Dan kemudian mengalirlah air mataku. Aku mulai menangis. Sesenggukan begitu dalam sehingga sampai terasa sakit. Rasa sakit itu menjalar dari dalam perutku dan mengguncang seluruh tubuhku. Aku jatuh tersungkur, berlutut, dan menangis. Aku menangis karena malu, dikuasai perasaan yang memalukan karena perbuatanku. Jajaran kotak arsip ini membayang di antara air mataku. Tak ada seorangpun yang boleh melihat ruangan ini, tak seorangpun boleh.

Aku harus mengunci ruangan ini dan menyembunyikan kuncinya. Namun ketika aku menghapus air mata ini, aku melihat Dia.

Oh, jangan! Jangan Dia! Jangan di sini. Oh, yang lain boleh asalkan jangan Yesus! Aku memandang tanpa daya ketika Ia mulai membuka arsip-arsip itu dan membaca kartu-kartunya. Aku tak tahan melihat bagaimana reaksi-Nya. Dan pada saat aku memberanikan diri memandang wajah-Nya, aku melihat dukacita yang lebih dalam dari pada dukacitaku. Ia nampaknya dengan intuisi yang kuat mendapati kotak-kotak arsip yang paling buruk.

Mengapa Ia harus membaca setiap arsip ini? Akhirnya Ia berbalik dan memandangku dari seberang di ruangan itu. Ia memandangku dengan rasa iba di mata-Nya. Namun itu rasa iba, bukan rasa marah terhadapku. Aku menundukkan kepalaku, menutupi wajahku dengan tanganku, dan mulai menangis lagi. Ia berjalan mendekat dan merangkulku. Ia seharusnya dapat mengatakan banyak hal. Namun Ia tidak berkata sepatah katapun. Ia hanya menangis bersamaku.
Kemudian Ia berdiri dan berjalan kembali ke arah dinding arsip-arsip. Mulai dari ujung yang satu di ruangan itu, Ia mengambil satu arsip dan, satu demi satu, mulai menandatangani nama-Nya di atas tanda tanganku pada masing-masing kartu arsip. Jangan!" seruku bergegas ke arah-Nya. Apa yang dapat aku katakan hanyalah "Jangan, jangan!" ketika aku merebut kartu itu dari tangan-Nya. Nama-Nya jangan sampai ada di kartu-kartu arsip itu. Namun demikian tanpa dapat kucegah, tertulis di semua kartu itu nama-Nya dengan tinta merah, begitu jelas, dan begitu hidup. Nama Yesus menutupi namaku. Kartu itu ditulisi dengan darah Yesus! Ia dengan lembut mengambil kembali kartu-kartu arsip yang aku rebut tadi. Ia tersenyum dengan sedih dan mulai menandatangani kartu-kartu itu. Aku kira aku tidak akan pernah mengerti bagaimana Ia melakukannya dengan demikian cepat, namun kemudian segera menyelesaikan kartu terakhir dan berjalan mendekatiku. Ia menaruh tangan-Nya di pundakku dan berkata, "Sudah selesai!"

Aku bangkit berdiri, dan Ia menuntunku ke luar ruangan itu. Tidak ada kunci di pintu ruangan itu. Masih ada kartu-kartu yang akan ditulis dalam sisa kehidupanku.

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16)

Kamis, 26 Januari 2012

God's people travel from one call to the fulfillment part 2 (end)


Perjalanan umat Tuhan dari satu panggilan sampai ke penggenapan part 2 (end)



Sekilas dari part 1,dijelaskan bagaimana perjalan kita sebagai anak Tuhan yang sudah bertobat, dipabtis air, terima Roh Kudus dan diurapi, sama seperti perjalanan kehidupan Daud yang dimulai dari Bethlehem (dimana Tuhan sedang menggali foundasi kita), lalu perjalanan di Goa Abdulam (dimana Tuhan sedang menaruh batu bata di atas foundasi kita), dan yang akan dibahas pada minggu ini ialah ketika kita sampai di Hebron dan berakhir di Bukit Zion.
Perjalanan di Hebron
Arti dari pada kata “Hebron”, ialah untuk menjadi satu, dan kesatuan tidak pernah terjadi sebelum kita menyebrangi batasan yang membatasi hidup kita, bukan lagi kita hanya menerima dan menerima tapi dimana kita mulai memberi kembali dan melakukan sesuatu.
Di 1 Taw 11:1-3, kita bias dapatkan bahwa bangsa Israel sesungguhnya sudah tau dari dulu bahwa Daud telah dipilih dan diurapi untuk menjadi raja namun kenapa hanya baru saat Daud di Hebron, mereka baru berkumpul dan mengatakan demikian rupa untuk meminta Daud menjadi raja.  Satu hal yang kita bias pelajari dari Daud dalam kejadian ini adalah setiap kita mempunyai panggilan masing masing dan ketika kita diurapi, jangan sampai kita mempromosikan diri kita sendiri, tapi biar waktuNya Tuhan dan Tuhan sendiri yang mempromosikan kita.
Sebelum sampai ke Hebron, ada suatu tempat yang namanya, “Ziklag” (1 Taw 12:1-4), tempat kemah utama dari pada Daud ketika ia menjadi buronan dan suatu ketika dimana kemah tersebut terbakar habis dan istri istri dari pada  tentara Daud ditawan. Ditempat yang sama dimana dulu orang orang yang bergirang dan menyebut Daud pahlawan, karena kejadian tersebut, langsung berubah hati dan mau membunuh Daud. Sekalipun hal demikian bisa juga terjadi pada kita, namun Tuhan akan melindungi kita. Ketika kita taat dan sampai di Hebron, orang orang yang dulu menghianati kita dan yang lain lain, mereka akan kembali dan bukan hanya itu tapi memakai keahlihan mereka untuk digunakan dalam tujuan kita.
Ketika kita sampai di Hebron, Tuhan akan membuatnya sangat istimewah dimana orang orang yang gagah perkasa, orang orang yang hevat, orang orang yang akan dating kepada kita bukan untuk meminta atau mengambil tapi untuk member. Jangan sampai kita memegang suatu visi dengan erat erat sebab ketika kita sampai dari pada Hebron mungkin kita yang menjadi orang tersebut yang rela untuk melepaskan visi kita demi visi besar dari pada gereja misalnya., dan bukan berarti visi kita akan terhilang tapi suatu kali akan tergenapi. Sejauh mana kita rela untuk berkorban dan menyerah, sejauh itu pun kemuliaan akan diberikan kepada kita (2 Tim 2:20-22).

Ketika sampainya di Zion
 Zion yang berarti tempat yang sangat kering, sebab tidak ada seorang pun disana, tidak ada budaya, pendidikan, seperti nya sangat kosong dan hanya ada Tuhan dan saudara. Apakah saudara mau untuk berada disuatu tempat yang kering yang mungkin tidak ada orang lain yang bisa mengerti saudara selain Tuhan dan bersama Dia sang pencipta anda? Sekalipun Zion adalah tempat yang kering dan sunyi tapi tempat tersebut dan menyembuhkan saudara.
Zion yang di diami oleh suku Yebus, dan sebelumnya tidak bisa dikalahkan oleh Daud, tapi oleh karena perintah Daud, Yoab melaksanakannya dan akhirnya menghancurkan benteng Yebus (1 Taw 11:5-7). Ketika kita taat akan perintah dari pada dimana kita melayani, kita akan menerima sesuatu yang luar biasa, sekalipun kadang kali mungkin kita dapat terlihat orang lain bahwa kita menjilat pemimpin kita, tapi biar kita jaga hati dan motivasi kita untuk tidak dipengaruhi oleh pendapat pendapat orang yang tidak mengerti. (1 Taw 11:5-7)
Pada ketika kita sampai di Zion, kita akan rela menyerahkan segalanya untuk Tuhan (1 Taw 15:29). Sering kali sayangnya  ketika kita sudah hebat dan menjadi unggul, dimana dulu kita mencucurkan air mata untuk minta berkat, tapi ketika kita mendapat apa yang kita gumulkan, kita sering mudah lupa dengan Tuhan, tapi tidak dengan Daud, yang menegerti bahwa tanpa Tuhan dia dan segala yang dia raih tidak ada apa apanya. Kalau kita merendahkan diri dalam Tuhan, Tuhan akan melindungi kita keseluruhannya. Waktu kita sampai di Zion, Tuhan akan memerintah bersama kita (1 Taw  17:7).
Jangan sampai kita mencari kesuksesan tapi carilah Tuhan dan Dia akan memberikan segala galanya. Kita tidak terpanggil untu meninggal dunia setelah bertobat dan menerima keselamatan tapi Tuhan mempunyai rencana yang besar dan tujuan misi untuk kita capai dan laksanakan. (Ibr 12:22-28)

Rabu, 25 Januari 2012

God's people travel from one call to the fulfillment part 1


Perjalanan umat Tuhan dari satu panggilan sampai ke penggenapan


Perjalan kita seteleh kita bertobat, dipabtis air, terima Roh Kudus dan diurapi, sama seperti perjalanan kehidupan Daud yang dimulai dari Bethlehem dan berakhir di Bukit Zion.  Ada empat peristiwa yang penting dalam perjalanan Daud. 
  1. Ketika di Bethlehem
  2. Ketika di goa Abdulam
  3. Ketika di Hebron
  4. Ketika di Bukit Zion

Perjalanan di Bethlehem (Tuhan menggali foundasi kita)


‘Bethlehem’ yang berarti ‘Rumah Roti’,dan kampong halaman Daud, dimana Daud diurapi oleh Nabi Samuel untuk menjadi raja pengganti Saul. (1 Samuel  16:12-13). Ada sesuatu yang berbeda dalam karakter Daud yang mungkin menjadi salah satu alasan dimana Tuhan  memilih Daud untuk menjadi raja atas Israel. Sebab sekalipun urapan kita akan mendahului kita, tapi terlebih penting yang perlu kita bangun adalah karakter kita dalam Tuhan.
Salah satu hal yang luar biasa, kita dapat lihat di 1 Samuel 17:15-20, 34-35, sekalipun Daud sudah diurapi menjadi raja, mempunyai akses kepada raja sebagai tangan kanannya dan juga mempunyai urapan yang luar biasa dimana setan dapat diusir ketika ia memainkan music (1Samuel 16:23), namun ketika ayah Daud menyuruh Daud untuk melakukan sesuatu, Daud tidak sekalipun mengeluh atau bersungut sungut dan Daud setia kepada hal hal yang kecil dan yang biasa biasa saja. Bahkan Daud tetap bertanggung jawab untu menjaga dombanya (1 Samuel 17:15) dan membela dombayang yang dipercayakan untuk dijaga dari pada serangan singa maupun beruang.
Kalau kita hanya berpikir besar, sekalipun kita sudah diurapi dan berjalan dalam urapan yang luar biasa tapi kita lupa akan hal hal kecil, kita akan dalam bahaya dan mudah terjurumus dalam kehancuran. Karena Daud setia dan bertanggung jawab atas tugasnya sampai dia rela melawan singa untuk membela dombanya, hal hal kecil ini yang mungkin tidak diketahui orang, tapi karena hal hal tersebut, Daud dapat melawan Goliat tanpa rasa takut yang dialami oleh bangsa dan raja Israel saat itu. Apa yang saudara lakukan dalam hal hal kecil akan menentukan seberapa saudara bertanggung jawab untuk hal hal yang besar pada nantinya. Salah satu sisi yang membahayakan akibat dari urapan kita mungkin akan membuat orang iri sebab kita melakukan hal hal yang lebih dari pada orang lain, tapi jaga hati kita supaya kita pun tidak gampang tergoncang.
Di Bethlehem dan bagi kita, ini adalah perjalanan dimana Tuhan sedang menggali foundasi dalam diri kita.



Perjalanan di Goa abulam (Tuhan sedang menaruh batu bata diatas foundasi kita)
Sekalipun kita telah diurapi dan dijanjikan untuk hal hal yang besar, tidak sama sekali berarti bahwa kita akan luput dari masalah, justru sebaliknya, masalah akan datang bukan untuk menghancurkan dan menggagalkan panggilan kita tapi untuk memproses kita untuk menjadi pahlawan Tuhan.


Dalam lingkungan kita pun, kita mungkin akan dikelilingi oleh orang orang yang tidak membangun, dan dalam kondisi dimana kita sendiri pun tidak tau perlu berarah kemana dan kekurangan sumber dan merasa lelah, seperti kisah Daud di 1 Samuel 22:2, 10-15. Tapi justru di perjalanan ini, Tuhan sedang menaruh batu batu bata diatas foundasi kita untuk membuat kita menjadi kokoh dan kuat di kemudian hari.
To be continued …

Selasa, 24 Januari 2012

BE PREPARE versi II


Lukas 12:29-34, satu-satunya jaminan bagi saudara dan saya  adalah kita adalah putra,putri dari Allah yang maha tinggi dan mempunyai dwi kewarganegaraan, warga negara di bumi ini dan warga negara Kerajaan Sorga, setiap pemerintah dan kerajaan wajib melindungi warga negaranya. Jangan takut  disaat melihat ketidak adanya hukum, kepastian dan perlindungan. Disaat Tuhan memanggil kita “little flock”, domba-dombaNya Tuhan, ada nada sayang disitu. Yohanes 10:27-30, yang kita butuhkan dalam hidup ini adalah suara Sorgawi, “My sheep hear My voice” (domba-dombaku mendengar suaraku).

Keadaan dunia ini sekarang sudah menunjukkan tanda-tanda kedatangan Tuhan untuk kedua kali, musim kering hujan badai, musim panas di new Zealand turun hujan salju. Buat orang lain keadaan ini menakutkan, tetapi buat kita putra, putri Kerajaan Allah, menggairahkan, “The King will come” (Sang Raja akan datang). 

Tsunami ekonomi akan melanda kita didepan ini Yang ditakutkan orang salah satunya adalah harga saham turun. Taruh imanmu pada sesuatu yang pasti yaitu Kerajaan Allah. Penting sekali untuk mempersiapkan diri menghadapi keadaan didepan kita. Salah satunya adalah harus bebas secara finansial, tidak sehat kalau anda masih terlibat dengan hutang kartu kredit, hidup diluar kemampuan, gempa, banjir, topan akan datang melandamu. Karena masalah finansial rumah tangga dapat hancur. Tuhan mengajar kita mengenai hal keuangan adalah :


1. Jangan takut (Lukas 12:32)
Jangan kuatir dan percaya! Burung diudara saja Tuhan pelihara, burung pipit harganya setengah duit, betapa kita lebih dari burung pipit. Banyak orang menumpuk harta, karena menaruh rasa amannya diharta tersebut. Cari Kerajaan-Nya, Bapa kita sangat memperhatikan kita bahkan mungkin hal-hal kecil dalam hidup kita. Bapa-mu berkenan memberi Kerajaan-Nya dengan senang hati, didalam Kerajaan-Nya ada pemulihan, kuasa, oleh karena itu datang kehadapan-Nya jangan dengan tangan hampa, tetapi datang sebagai putra, putri-Nya. 
Lukas 21:10,11, tanda-tanda ini akan berhubungan dengan revival, disaat orang takut mereka akan mencari Tuhan. “In Christ alone I place my trust” (Didalam Kristus saja kita letakkan pengharapan kita). 

2. Juallah segala milikmu (Lukas 12:33-34)
Maksudnya ialah pindah tangankan kepada pemilik yang sesungguhnya yaitu Tuhan. Dengan demikian kita tidak pernah takut kehilangan karena harta tersebut bukan milik kita, miliknya Tuhan. Sementara kita hidup didunia ini, kita adalah bendahara Kerajaan Allah yang bisa dipercaya. Kalau hartamu di surga maka hatimu disurga. Harta yang berharga di Kerajaan Allah adalah jiwa-jiwa. Memberi bagi Kerajaan Allah adalah menjangkau jiwa bagi Kerajaan-Nya. Yakobus 5:1-7, hari Tuhan itu berkat bagi kita, penghakiman bagi orang-orang yang hidup diluar Tuhan. Kita adalah masyarakat Mesianik, suatu masyarakat yang dipersiapkan untuk memerintah bersama dengan Tuhan. Kerajaan Allah itu tinggal diterima, kita harus datang seperti anak kecil dihadapan Bapa kita. Ketika kita memberikan sedekah, Bapa kita memberikan semua keuntungan dari Kerajaan-Nya kepada kita dan keturunan kita. 

Jadilah putra,putri Kerajaan Allah yang suka memberi, seperti Bapa kita disurga. Ingat semua yang kita punyai dimuka bumi adalah titipan dari Bapa. Firman Tuhan berkata carilah dulu Kerajaan Allah, keadaan semakin sulit, tetapi jangan takut karena Bapa kita berkenan memberikan Kerajaan-Nya kepada kita. 

-PS.TIMOTIUS ARIFIN-
-ROCK JAKARTA-

Senin, 23 Januari 2012

BE PREPARE versi I


Kita harus siap menghadapi gelombang tsunami kenajisan, pornografi, pemberontakan dalam keluarga yang melanda. Sebagai putra, putri Kerajaan Allah harus bersiap-siap untuk menghadapinya, karena jiwa kita bisa melayang, hanyut didalamnya, apabila tidak mempersiapkan diri. Cara untuk mengatasinya, yaitu dengan memperkuat dan memperkokoh benteng rumah tangga kita. Kekuatan untuk menahan serangan yang kuat dari luar adalah keluarga yang kuat, didalam Kristus.

Kejadian 1:26-28. “The greatest tragedy in our live is live without a purpose”(Tragedi terbesar dalam hidup adalah, hidup tanpa tujuan). Hidup berumah tangga harus tertib, mengerti apa tujuan menikah. Pernikahan Kristen berbicara tentang destiny didalam Tuhan. Bagi yang berada dalam tujuan-Nya pasti bahagia, karena itulah kehendak Tuhan atas hidup kita. Pernikahan tanpa mengerti tujuan didalam Tuhan sama dengan kehilangan tujuan, seperti kata dosa yang dalam bahasa lainnya “Hamartia (missing the target)”. Dengan hidup didalam tujuan-Nya, maka kehidupan pernikahan akan dikuatkan dan dipimpin oleh Tuhan untuk dapat menghadapi goncangan akhir jaman ini. 

Tujuan orang menikah adalah:
1. Sebuah hubungan dan persekutuan yang terpusat kepada Kristus sebagai kepala 
Yang Tuhan mau, hubungan dalam keluarga pusatnya adalah Kristus. Kekuatan hubungan membangun komunikasi yang kuat. Suami, istri akan komitmen untuk bangun hubungan hati ke hati. Hubungan dengan sesama juga penting bagi Tuhan Yesus, dalam Matius 2:23-25, sebelum seseorang membawa persembahannya dihadapan Tuhan, dia harus selesaikan dulu masalahnya dengan sesama. Suami, bawa istri, anak-anakmu untuk datang menyembah Tuhan.

2.Prokreasi
Menghasilkan anak-anak, baik jasmani maupun anak-anak rohani. Tuhan kita adalah Tuhan yang kreatif dan inovatif. Dia ciptakan kita serupa dan segambar dengan Dia, maka kita juga memiliki kreatifitas dan inovasi yang sama dengan pencipta kita. Penting untuk menggali kemampuan kita dalam hidup ini, kalau tidak kita mati dengan sia-sia dan semua talenta terkubur. Ciptakan suasana yang segar dan asyik dalam rumah tangga kita, sehingga kasih, harmoni dan damai sejahtera terbangun dirumah kita.

3. Memenuhi Mandat Kerajaan (Fulfilling Kingdom Mandate)
Mengampuni dan tidak menghakimi, prioritaskan Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya dalam hidup kita. Persiapkan diri dan keluarga kita. Maleakhi 2:15,16, setialah kepada pasanganmu.

Tips dalam keluarga:
W =Worship, Penyembahan menolong setiap anggota keluarga untuk tetap fokus kepada Yesus, sikap hati yang dijaga, haus dan lapar akan  
       Tuhan. Seisi rumah menyembah Tuhan bersama-sama. Mazmur 22:4, keluarga kita jadi dahsyat , karena Tuhan bertahta diatas keluarga yang
       menyembah. Disaat suami istri saling memuji, disitu Tuhan juga bertahta.
I =  Intimacy, hubungan yang dekat dari hati ke hati, sesama anggota keluarga.
F = Fokus, pada pasanganmu masing-masing.
E = Ekspresikan cintamu, kepada pasangan, anak-anak. Selamat membangun keluarga yang menjadi berkat yang memuliakan Yesus Kristus Tuhan.

-PS.RONNY DAUD SIMEON-
-ROCK JAKARTA-